hanya menyampaikan.....

“Hendaklah orang-orang yang mendengar ucapanku, menyampaikan pula kepada orang lain. Semoga yang terakhir lebih memahami kata-kataku dari mereka yang terus mendengar dariku. Saksikanlah ya Allah, bahawasanya telah aku sampaikan risalah-Mu kepada hamba hamba-Mu.”

(Diriwayatkan oleh Imam Muslim daripada Jabir (2/240), Sunan Abu Daud 1825 dan disampaikan oleh Rasulullah Sallahualaihi wasallam dalam sabda baginda di dalam khutbah hajjatul wada’, di Lembah Uraynah, Bukit Arafah)

Friday, 15 February 2013

12 Golongan Orang yang Didoakan MALAIKAT.


lago di como - milan

Kalau ingin didoakan para malaikat, lakukanlah amal sholeh berikut ini:

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.

Imam Ibnu Hibban meriwayatkan, dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya.


Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa 'Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci'" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang duduk menunggu shalat.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra.,

bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya 'Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'" (Shahih Muslim no. 469)

3.Orang - orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat.

Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin 'Azib ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang - orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf).

Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang - orang yang menyambung shaf - shaf" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan 'Amin' ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu" (Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, 'Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'" (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan 'ashar secara berjama'ah.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat 'ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat 'ashar) naik (ke langit). Sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, 'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?', mereka menjawab, 'Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'" (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda' ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata 'aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'" (Shahih Muslim no. 2733)

9.Orang-orang yang berinfak.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'" (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang makan sahur.

Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang - orang yang makan sahur" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11. Orang yang menjenguk orang sakit.

Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh" (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, "Sanadnya shahih")


12. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain" 
(dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)



scan this!!!

Thursday, 24 January 2013

semua manusia tiada yang terkecuali akan mendatangi Neraka.





‎"Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan." [Maryam:71]
 "Kemudian Kami menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut." [Maryam: 72]

Imam Muslim rahimahullâh meriwayatkan dengan sanadnya dari Umm Mubasysyir radhiallâhu'anha, ia mendengar Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassallam bersabda saat berada di samping Hafshah radhiallâhu'anha,
“Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah berbaiat di bawah pohon (ikut serta dalam perjanjian Hudaibiyah, red) yang akan masuk neraka”. 
Hafshah (dengan merasa heran) berkata,
“Mereka akan memasukinya wahai Rasulullah”.

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassallam pun menyanggahnya. Kemudian Hafshah radhiallâhu'anha berdalil dengan membaca ayat di atas (Qs Maryam/19: 71).

(Mendengar ini) Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassallam kemudian (mendudukkan masalah seraya) bersabda:
“Sungguh Allah telah berfirman setelahnya: Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zhalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut)”. 
(Qs Maryam/19: 72)

Usai mengetengahkan hadits di atas, Imam Ibnu Abil ‘Izzi rahimahullâh mengatakan bahwa Beliau (Rasulullah) Shallallahu 'Alaihi Wassallam mengisyaratkan (dalam hadits tersebut) bahwa maksud al-wurûd (mendatangi neraka) tidak mesti memasukinya.

Selamatnya (seseorang) dari mara bahaya tidak mesti ia telah mengalaminya. Seperti halnya seseorang yang dikejar musuh yang hendak membunuhnya, namun musuh tidak sanggup menangkapnya, maka untuk orang yang tidak tertangkap ini bisa dikatakan Allah telah menyelamatkannya. 

Sebagaimana Allâh Ta'ala berfirman yang ertinya:
  • "Dan ketika adzab Kami datang, Kami selamatkan Hûd..." (Qs. Hûd /11:58),
  • "Maka ketika keputusan Kami datang, Kami selamatkan Saleh..." (Qs. Hûd /11:66),
  • "Maka ketika keputusan Kami datang, Kami selamatkan Syu’aib..." (Qs. Hûd /11:94).

Seksa Allâh Ta'ala tidak ditimpakan kepada mereka, akan tetapi menimpa orang selain mereka. Jika tidak ada faktor-faktor keselamatan yang Allâh Ta'ala anugerahkan bagi mereka secara khusus, nescaya seksa akan menimpa mereka juga. Demikian pula pengertian al-wurûd (mendatangi neraka), maksudnya adalah orang-orang akan melewati neraka dengan melintasi shirâth, kemudian Allâh Ta'ala menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zalim di neraka dalam keadaan berlutut”





Saturday, 29 December 2012

Zubair bin al-Awwam dan anaknya Abdullah. "LIKE FATHER LIKE SON"


Kisah para sahabat ni bagi ana sangat menarik sekali. Semoga perasaan yg ana rasa ni pun sampai juga kepada yang baca post ni. insha-Allah. Biar ana mulakan dengan kisah Zubair bin al-Awwam (bapa Abdullah bin Zubair) dahulu.

ZUBAIR BIN AL-AWWAM (BAPA) 

Nama penuh beliau ialah Zubair bin Al-Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qusay bin Kilab bin Murrah bin Kaab bin Luayy Al-Kinani Al-Qurasyi Al-Asadi Al-Makki. Bertemu nasabnya dengan Rasulullah SAW pada datuknya yang kelima iaitu Qusay. Asalnya, ibunya Sofiah menggelarkan beliau dengan Abu Thahir, sebelum ditukar Abu Abdullah dengan anaknya Abu Abdullah sehinggalah gelaran itu masyhur di sisi Rasul SAW dan para sahabat.

Beliau juga dikenali sebagai Hawari Rasul SAW, iaitu penolong dan penyampai ke arah kemenangan serta di antara sahabat paling ikhlas dan bersih dari keaiban. Malah, beliau menikahi Asma’ binti Abu Bakar Zatun Nithaqain dan zuriatnya iaitu Abdullah bin Zubair, bayi pertama lahir dari kaum Muhajirin selepas hijrah ke Madinah. Lalu Abdullah diambil sebagai anak angkat Nabi SAW.

Zubair seorang yang tinggi tubuhnya, kuat dan tegap badannya, putih kemerah-merahan kulitnya, panjang, tersusun dan pantas langkahnya, tegas pendirian, cerdas fikiran, sentiasa cergas serta sangat cekap dalam ilmu peperangan. Pernah dalam satu peperangan seperti yang digambarkan oleh anaknya Urwah: “Ketika kecilnya beliau telah berperang dan telah mematahkan tangan seorang lelaki, lalu lelaki tersebut bertemu dengan ibunya Sofiah lalu ibunya bertanya: “Kenapa dengan kamu?”, lelaki itu memberitahu bahawa Zubair telah mematahkan tangannya dalam peperangan, seraya ibunya melantunkan sebuah syair menggambarkan bahawa Zubair adalah seorang yang kuat tenaganya serta pantas langkahnya yang bisa menjatuhkan dan mengalahkan orang lain. Dan begitulah sifatnya sejak muda hingga ke zaman tuanya.

Pengislaman Zubair telah diriwayatkan oleh Ibnu Ishak : Tatkala Abu Bakar memeluk Islam lalu mengisytiharkan keislamannya, beliau (Abu Bakar) adalah seorang yang disegani dan dicintai di sisi kaumnya, paling dihormati di kalangan Quraisy serta paling alim dan terkenal di antara mereka. Oleh itu, beliau menyeru kaumnya kepada Islam dari mereka yang mempercayainya untuk bersama-sama dengannya dan hasilnya; Uthman bin Affan, Zubair bin Al-Awwam, Abdul Rahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqas, Thalhah bin Ubaidillah lalu bersemuka seraya mengisytiharkan keislaman mereka dan bersolat bersama-sama baginda SAW. Ibnu Hisham meriwayatkan bahawa Zubair memeluk Islam ketika usianya 16 tahun. Ini dikuatkan dari riwayat al Imam Ibnu Abdul Barr bahawa ketika Rasul SAW berumur 24 tahun, ketika itulah Zubair bin Al-Awwam dilahirkan. Bermula dari detik itulah beliau mula mendampingi baginda SAW dalam penyebaran Islam melalui dakwah dan peperangan.

Cintanya kepada Nabi SAW tergambar apabila baginda SAW disakiti ketikamana diutus menyampaikan Islam dan beliau disakiti, lalu Zubair menghunuskan pedangnya bagi melindungi baginda SAW. Lalu Nabi SAW mendoakannya dengan kebaikan dan Allah SWT tidak mensia-siakan doanya. Rasulullah SAW telah mempersaudarakannya dengan Abdullah bin Mas’ud, selain turut berhijrah ke Habsyah dan Madinah. Beliau turut terlibat dalam banyak peperangan bersama Nabi SAW, seperti ungkapannya dari riwayat al Hakim: “Demi Allah! Tidak keluar Rasulullah SAW dalam ghazwah atau sariyyah melainkan aku akan turut menyertainya”. Antara peperangan yang beliau sertai ketika hayat Nabi SAW termasuklah perang Badar, Uhud, Hamraul Asad, Khandak, Khaibar, Fathul Makkah, Hunain dan Tabuk. Manakala peperangan yang beliau ikuti selepas kewafatan SAW ialah Perang Riddah, Yarmuk, dan juga pembukaan Mesir, Nahwan di Parsi dan Azerbaijan.

Tersebut ada sedikit video yang menunjuk kehandalan Zubair bin al-Awwam dalam menghunus pedangnya. Bagaimana dicerita bahawa pada zaman beliau hanya terdapat 2 orang sahaja yg mampu handal menggunakan pedang pada kedua-dua belah tangan dalam satu masa iaitu yang pertama, Khalid al-Walid dan yang kedua, Zubair bin al-Awwam :-




Beliau juga turut berkhidmat kepada Khulafa’ Ar-Rasyidin hatta terlibat dalam Majlis Syura dalam memilih pengganti Uthman RA dan Ali RA. Zubair pernah menghadapi saat-saat sukar apabila berhadapan zaman fitnah yang berlaku ketika pemerintahan Ali RA iaitu terlibat dalam pertempuran Jamal yang melibatkan pertembungan dua pasukan iaitu terdiri dari pihak Aishah Ummul Mukminin dan Ali bin Abi Talib. Beliau terbunuh dalam pertempuran tersebut ketika umurnya 64 tahun, yakni pada hari Khamis, 10 Jamadil Akhir tahun 36 Hijri.

Sekarang ana sambungkan kisah anak beliau pula. Asma' telah menikah dengan Zubair bin Awwam ra. Dan darinya mempunyai anak iaitu Abdullah, Urwah, Mundzir, Asim, Muhajir, Khadijah, Ummul Hasan dan 'Aisyah. Ana nak share kisah anak nya yang bernama Abdullah. insha-Allah.

ABDULLAH BIN ZUBAIR (ANAK)

Kehangatan darah semangat kepahlawanan, kehandalan dan keberanian yg terdapat dalam diri Zubair bin al-Awwam telah mengalir pada tubuh salah satu anaknya iaitu Abdullah bin Zubair.

Abdullah bin Zubair adalah sahabat Rasulullah yang termasuk dalam golongan As-Sabiqun al-Awwalun iaitu gelombang pertama yang memeluk agama islam. Ibnu Zubair merupakan anggota dari Bani Asad. Sebagai orang muda, Abdullah bergiat secara aktif dalam berbagai usaha perjuangan islam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, seperti Pertempuran Badar dan Pertempuran Uhud, malah di Uhud, dia termasuk salah seorang yang melindungi Muhammad pada saat kekalahan pihak muslim, dimana sahabat-sahabat yang lain melarikan diri..... Abdullah bin Zubair atau Ibnu Zubair (624 - 692) (Arab:عبدالله بن الزبير ) adalah putera dari Zubair bin Awwam dan Asma binti Abu Bakar, dimana Zubair juga merupakan anak saudara dari isteri pertama Nabi Muhammad, Khadijah. Diriwayatkan bahawa Asma binti Abu Bakar melahirkan Ibnu Zubair di Quba pada saat perjalanan hijrah ke Madinah. Dia merupakan muslim pertama yang lahir dalam masyarakat Islam dan hidup sampai umur 73 tahun. Menurut riwayat dari Bukhari, Rasulullah mendoakan bayi ini pada saat kelahirannya.

Lebih senang dengar akan kisah Abdullah bin Zubair ini dalam video ini insha-Allah. Sifat-sifat yang ada pada Abdullah saling tak tumpah dengan yang ada pada bapa beliau, Zubair bin al-Awwam. Allahuakbar! :-


Isu bahawa kaum Muslimin tak boleh melahirkan bayi lelaki kerana kononnya disihir oleh dukun-dukun Yahudi di Madinah, terjawab sudah apabila seorang wanita mulia, puteri Abu Bakar Ash-Shiddiq, telah melahirkan bayi lelaki ketika sedang hijrah di Makkah ke Madinah menyusul teman-temannya seiman.

Kisahnya apabila Asma' binti Abu Bakar yang melahirkan bayi lelaki di Quba' dan diberi nama Abdullah bin Zubair. Sebelum disusui, Abdullah bin Zubair dibawa menghadap Rasulullah SAW, ditahniq (Tahniq yang dilakukan Oleh Nabi Muhammad.s.a.w. adalah menyuap atau memasukkan manisan (tamar) yang dikunyahNya ke lelangit bayi.) dan didoakan oleh beliau.

Abdullah yang memang lahir dari pasangan mujahid dan mujahidah ini berkembang menjadi seorang pemuda perwira yang perkasa. Keperwiraannya di medan perang, ia buktikan ketika bersama mujahid-mujahid lainnya menggempur Afrika, membebaskan mereka dari kesesatan. Pada waktu mengikuti perjuangan tersebut, usianya baru menginjak 17 tahun. Namun begitulah kehebatan sistem tarbiyah Islamiyah yang mampu mencetak pemuda belia menjadi tokoh pejuang dalam menegakkan Islam.

Dalam peperangan tersebut, jumlah individu diantara dua pasukan jauh tidak seimbang. Jumlah pasukan Muslimin hanya 20.000 orang, sedangkan tentara musuh berjumlah 120.000 orang. Keadaan ini cukup membuat kaum Muslimin susah melawan gelombang musuh yang demikian banyak, walhal yang demikian, itu tidak membuat mereka gentar. Sebab bagi mereka, perang adalah mencari kematian sedangkan ruhnya bisa membumbung menuju syurga sebagaimana yang telah dijanjikan Tuhan mereka.

Melihat keadaan yang kurang menguntungkan tersebut, Abdullah bin Zubair berpikir mencari rahsia kekuatan lawan. Akhirnya ia menemukan jawapannya, bahawa punca kekuatan musuh tertumpu pada Raja Barbar yang menjadi panglima perang mereka. Dengan penuh keberanian, Abdullah mencuba menembus pasukan musuh yang berlapis itu menuju ke arah panglima tersebut.

Usahanya tidak sia-sia, ketika jarak antara dirinya dan Raja Barbar telah dekat, ia menebaskan pedangnya menghabisi nyawa panglima kaum musyrik itu. Panji pasukan lawan pun direbut oleh teman-temannya dari tangan musuh. Dan ternyata, dugaan Abdullah tidak meleset, segera setelah itu semangat tempur pasukan musuh redup dan tak lama kemudian mereka bertekuk lutut di hadapan para mujahid yang gagah berani.

Selain seorang  wira perang, Abdullah juga seorang abid (ahli ibadah) yang khusyuk dan tawadhu. Mujahid pernah memberikan kesaksian bahwa apabila Ibnu Zubair sedang solat, tubuhnya seperti batang pohon yang langsung tidak bergerak karena khusyuknya solat menghadap Ilahi.

Bahkan Yahya bin Wahab juga bercerita bahwa apabila Abdullah bin Zubair sedang sujud, banyak burung-burung kecil bertenggek di punggungnya. Tokoh yang tegas dalam kebenaran ini wafat pada usia 72 tahun, terbunuh oleh Hajjaj bin Yusuf. Diriwayatkan bahwa Asma binti Abu Bakar, ibu dari Ibnu Zubair yang pada saat itu berumur 100 tahun mengetahui akan pemenggalan dan penyaliban badan Ibnu Zubair, kemudian ibunya membawa mayat anaknya tersebut kembali seorang diri ke Madinah dan dikuburkan di sana.

Ana ambil kisah ni dan modified sikit dari link ---> kisah Abdullah bin Zubairkisah Zubair bin al-Awwam

Friday, 28 December 2012

MENGEJAR 99 RAHMAT ALLAH SWT DI AKHIRAT KELAK.

Dikisahkan dalam hadits shahih. Rasulullah mendapat khabar dari Malaikat Jibril, bahawa ada seorang hamba yang hidup di sebuah gunung yang berada di tengah-tengah laut. Di sana ada buah-buahan yang menjadi bahan makanan, ada air jernih yang menjadi bahan kehidupan dan ada apa yang menjadi kebutuhannya. Tidak ada yang dikerjakan oleh hamba itu kecuali bersolat. Hamba itu berdoa kepada Allah, meminta agar dimatikan ketika sedang dalam keadaan sujud. Allah mengabulkan permohonannya. Pada hari kebangkitan, Allah memerintahkan malaikat: “Masukkan hamba-Ku itu ke dalam surga dengan rahmat-Ku!” Hamba itu berkata: “Ya Tuhan, masukkan aku ke syurga kerana amalku!” Allah mengulanginya sampai tiga kali, dan hamba itu masih jugak ingin masuk syurga kerana amalnya. Maka Allah memerintahkan kepada malaikat: “Timbang amal-amalnya dengan nikmat-Ku!” Dan ternyata setelah ditimbang, satu kenikmatan mata lebih berat daripada ibadah hamba itu selama 500 tahun, belum lagi nikmat-nikmat jasad yang lain. Lalu Allah berkata kepada malaikat: “Tarik dia masukkan ke dalam neraka!” Hamba itu menyeru: “Ya Tuhan, dengan rahmat-Mu masukkan aku ke dalam syurga!”

Rasulullah bersabda :

“Sesungguhnya Allah SWT memiliki 100 rahmat (nikmat) satu rahmat dari padanya diturunkan Nya dan dibagi-bagi diantara jin, manusia, haiwan-haiwan besar dan kecil. Dengan rahmat yang satu itu, semua makhluk tersebut saling sayang menyayangi dan kasih mengasihi. Dengan rahmat yang satu itulah seekor keldai liar menyayangi anaknya. Adapun rahmat yang 99 lagi disediakan Allah SWT buat kehidupan di akhirat. Dengan rahmat yang 99 itulah Allah akan mengasihi hambaNya pada hari kiamat”. (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Dalam ridaksi yang lain Rasulullah bersabda : Dari Abu Hurairah ra berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: ”Allah menjadikan rahmat 100 bahagian, 99 bahagian Allah tahan dan Allah turunkan ke bumi satu bahagian. Satu bahagian itulah yang menyebabkan sesama mahluk saling menyayangi sampai kuda mengangkat telapak kakinya dari anaknya khawatir mengenainya” (Muttafaqun ‘alaihi).

Dalam ridaksi yang lain lagi Rasulullah bersabda :

إِنَّ الله خَلَقَ الرَّحْمَةَ يَوْمَ خَلَقَهَا مِائَةَ رَحْمَةٍ فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعًا وَتِسْعِيْنَ رَحْمَةً وَأَرْسَلَ فِي خَلْقِهِ كُلِّهِمْ رَحْمَةً وَاحِدَةً

Sesungguhnya Allah ketika menciptakan (Rahmat) kasih sayang, Dia menciptakannya 100 bahagian. Disimpan-Nya 99 bahagian di sisi-Nya, dan Dia memberikan untuk seluruh makhluk-Nya satu bahagian. (HR. Thabrani)

Allah berfirman :


21. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.


22. Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

(QS. An Nuur :21-22)

p/s: semoga bermanfaat. inshaAllah.

Wednesday, 26 December 2012

WAJIB KE SUNAT BELA JANGGUT BAGI MUSLIMIN?


Ada Ulama yang berpendapat bahawa hukum menyimpan janggut adalah sunat dan ada yang mengatakan, ia adalah wajib. Tetapi, pendapat yang paling jelas ialah wajib. Ini kerana, ada dalil sahih daripada Rasulullah SAW. Antaranya :-

Daripada Ibn Umar RA berkata bahawa Rasulullah SAW bersabda:

“Bezakanlah (jangan menyamai) perbuatan orang-orang musyrik, lepaskan (simpan) janggut kamu dan nipiskan misai kamu.”- Hadis riwayat Muslim dan al-Bukhari.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak menyimpan janggut. Oleh itu, tidak boleh menyerupai mereka. Ini salah satu daripada tatacara kehidupan mereka.

Sabda Rasulullah SAW:

“Sesiapa yang menyerupai sesuatu kaum, dia adalah daripada kalangan mereka.”- Hadis riwayat Ahmad.

“Bukanlah daripada umatku seseorang yang lain daripada kami. Oleh itu, janganlah kamu mengikut Yahudi dan Nasrani.”- Hadis riwayat al-Tirmizi.

Daripada Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyekutukan ALLAH membiarkan misai mereka dan mencukur janggut mereka, maka lakukanlah perbezaan daripada mereka dengan memanjangkan janggut dan menipiskan misai.” - Hadis riwayat al-Bazzar dengan sanad yang sahih.

Ibn Taimiyyah berkata:

“Haram jika memotong janggut (mencukur janggut). Terdapat dalil daripada al-Quran, Sunnah dan ijmak mengenai larangan meniru gaya orang-orang kafir. Meniru gaya hidup dan akhlak mereka adalah satu perkara yang keji dan termasuk dalam akidah seseorang itu. ”

Oleh itu, bertakwalah mengikut kemampuan. in my opinion, the conclusion, Menyimpan janggut adalah sunnah Rasulullah s.a.w yang membawa kepada hukum yang wajib. Ikutilah sunnah baginda, anda akan bahagia di dunia dan akhirat. Insha Allah.

nak tahu lebih tepat dan lanjut pasal hukum nya disini ----> http://www.islam.tc/beard/beard.html